Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog
KSGN

Wednesday, July 8, 2026

vonis Nadiem publik terbelah

Vonis 15 Tahun Nadiem, Publik Terbelah: Menimbang Keadilan, Praduga Tak Bersalah, dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Jagat media sosial kembali ramai. Sebuah poster talkshow bertajuk "Vonis 15 Tahun Nadiem, Publik Terbelah" mengundang perhatian masyarakat. Berbagai komentar bermunculan. Ada yang mendukung proses hukum yang sedang berjalan, ada pula yang mengingatkan agar semua pihak tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan tidak menghakimi sebelum seluruh proses peradilan selesai.

Perbedaan pandangan tersebut merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, sebagai masyarakat yang menjunjung hukum, kita perlu menyikapinya dengan kepala dingin, berdasarkan fakta, bukan sekadar opini atau emosi.

Sebagai seorang guru yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, saya memandang bahwa setiap persoalan hukum yang melibatkan tokoh publik harus menjadi pembelajaran bagi bangsa. Terlebih lagi jika tokoh tersebut pernah memimpin dunia pendidikan Indonesia.

Pendidikan Lebih Besar daripada Siapa Pun

Selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, banyak kebijakan yang menuai pujian sekaligus kritik. Program Merdeka Belajar, transformasi digital sekolah, perubahan sistem seleksi masuk perguruan tinggi, hingga berbagai kebijakan lain menimbulkan beragam respons dari masyarakat.

Ada guru yang merasa terbantu. Ada pula yang merasa kebijakannya terlalu cepat berubah sehingga membingungkan sekolah.

Perbedaan penilaian terhadap sebuah kebijakan adalah hal biasa dalam demokrasi. Namun persoalan hukum merupakan ranah yang berbeda. Penilaiannya harus didasarkan pada alat bukti, saksi, dan proses pengadilan yang adil.

Menghormati Proses Hukum

Indonesia adalah negara hukum. Oleh karena itu, siapa pun memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum.

Jika seseorang ditetapkan sebagai tersangka, didakwa, ataupun divonis di pengadilan, seluruh proses tersebut memiliki mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Di sisi lain, setiap warga negara juga memiliki hak untuk memperoleh pembelaan hukum, mengajukan banding, kasasi, maupun peninjauan kembali sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati agar tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial.

Publik Memang Terbelah

Fenomena "publik terbelah" sebenarnya bukan hanya terjadi pada kasus ini.

Dalam hampir setiap perkara besar, masyarakat biasanya terbagi menjadi beberapa kelompok.

Ada yang percaya penuh kepada aparat penegak hukum.

Ada yang memilih menunggu putusan berkekuatan hukum tetap.

Ada pula yang melihat persoalan dari sisi politik, ekonomi, maupun kepentingan lainnya.

Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi. Namun perbedaan itu hendaknya tetap disampaikan secara santun, tanpa menyebarkan fitnah ataupun ujaran kebencian.

Pelajaran bagi Dunia Pendidikan

Sebagai guru, saya melihat peristiwa ini memberikan pelajaran penting kepada para siswa.

Pertama, setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Kedua, integritas jauh lebih mahal daripada jabatan.

Ketiga, kepercayaan publik dibangun selama bertahun-tahun, tetapi dapat hilang dalam waktu yang sangat singkat apabila muncul persoalan yang menggerus kepercayaan tersebut.

Pendidikan karakter menjadi semakin penting agar generasi muda memahami arti kejujuran, tanggung jawab, dan akuntabilitas.

Guru Mengajarkan Berpikir Kritis

Di kelas, guru tidak hanya mengajarkan mata pelajaran. Guru juga mendidik siswa agar mampu berpikir kritis.

Berpikir kritis berarti tidak mudah percaya terhadap berita yang belum terverifikasi.

Tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.

Mampu membedakan antara fakta, opini, dan asumsi.

Kemampuan inilah yang sangat dibutuhkan pada era media sosial.

Menjaga Persatuan Bangsa

Perbedaan pandangan jangan sampai memecah persatuan bangsa.

Siapa pun yang sedang menjalani proses hukum tetap memiliki hak-hak yang dilindungi undang-undang.

Demikian pula masyarakat memiliki hak untuk memperoleh informasi yang benar, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepercayaan terhadap lembaga penegak hukum akan semakin kuat apabila seluruh proses dilakukan secara profesional, independen, dan terbuka.

Harapan untuk Dunia Pendidikan

Apa pun hasil akhir dari proses hukum yang sedang berlangsung, dunia pendidikan Indonesia harus terus berjalan.

Anak-anak tetap harus belajar.

Guru tetap harus mengajar dengan penuh semangat.

Sekolah harus menjadi tempat lahirnya generasi yang jujur, cerdas, berkarakter, dan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju.

Pendidikan tidak boleh berhenti karena polemik politik maupun persoalan hukum.

Justru dari setiap peristiwa, kita harus mengambil hikmah untuk memperkuat sistem pendidikan yang lebih bersih, transparan, dan berintegritas.

Penutup

Perdebatan di ruang publik merupakan hal yang lumrah dalam negara demokrasi. Namun, sebagai bangsa yang beradab, kita perlu mengedepankan sikap bijaksana: menghormati proses hukum, menjunjung asas praduga tak bersalah, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap.

Di atas segala perbedaan pendapat, ada kepentingan yang lebih besar, yaitu menjaga kepercayaan terhadap penegakan hukum dan memastikan pendidikan Indonesia terus melahirkan generasi yang berintegritas.

Sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia, saya percaya bahwa setiap peristiwa dapat menjadi pelajaran berharga. Tugas kita bukan sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi warga negara yang cerdas, kritis, santun, dan selalu berpihak pada kebenaran yang dibuktikan melalui proses hukum yang adil. Semoga bangsa Indonesia semakin dewasa dalam menyikapi setiap persoalan, sehingga persatuan tetap terjaga dan pendidikan terus menjadi jalan utama menuju masa depan yang lebih baik.

Ziarah ke Makom Mahmud

Ziarah ke Makom Mahmud: Ketika Langkah Kaki Mengingatkan Kita Bahwa Hidup di Dunia Hanya Sementara

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Kalimat yang sering kita dengar itu terasa begitu dekat ketika saya melangkahkan kaki menuju Makom Mahmud di Kampung Adat Mahmud, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Tempat ini bukan sekadar kompleks pemakaman para ulama, tetapi juga ruang perenungan yang mengajak setiap pengunjung mengingat hakikat kehidupan. Kampung Adat Mahmud sendiri dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah Bandung yang didirikan oleh Syekh Abdul Manaf atau yang dikenal masyarakat sebagai Eyang Dalem Mahmud. Hingga kini, masyarakatnya masih menjaga tradisi, adat, dan nilai-nilai keislaman yang diwariskan para leluhur. 

Begitu memasuki kawasan Makom Mahmud, suasana hati saya berubah. Hiruk-pikuk kota Bandung seakan tertinggal jauh di belakang. Udara terasa lebih tenang. Langkah kaki melambat. Hati yang sebelumnya dipenuhi berbagai kesibukan mendadak diajak berdialog dengan diri sendiri. Di tempat seperti inilah manusia diingatkan bahwa jabatan, kekayaan, popularitas, bahkan segala kebanggaan dunia tidak akan ikut dibawa ke liang lahat.

Di sepanjang jalan menuju makam, saya melihat banyak warung kecil yang menjual oleh-oleh. Salah satunya adalah warung yang saya abadikan dalam foto. Aneka kerupuk, rengginang, opak, makanan ringan, hingga bawang merah dijajakan dengan rapi. Para pedagang menyambut peziarah dengan senyum tulus. Saya melihat bahwa keberkahan ziarah bukan hanya dirasakan oleh para peziarah, tetapi juga menjadi sumber rezeki bagi masyarakat sekitar. Mereka tidak meminta belas kasihan. Mereka bekerja dengan penuh semangat melayani tamu yang datang dari berbagai daerah.

Saya membeli beberapa makanan ringan sebagai oleh-oleh. Nilainya mungkin tidak seberapa, tetapi saya percaya setiap rupiah yang kita belanjakan di tempat seperti ini ikut menggerakkan roda ekonomi warga. Terkadang, membantu sesama tidak harus dalam jumlah besar. Membeli dagangan mereka pun sudah menjadi bentuk kepedulian.

Perjalanan menuju makam semakin menggetarkan hati. Saya membayangkan bagaimana dahulu Syekh Abdul Manaf datang ke kawasan yang masih berupa rawa di tepian Sungai Citarum. Dengan penuh kesabaran beliau berdakwah, membangun perkampungan, dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Dari perjuangan seorang ulama itulah lahir sebuah kampung adat yang hingga sekarang tetap mempertahankan identitasnya di tengah arus modernisasi. 

Ketika berdiri di depan makam, saya tidak datang untuk meminta kepada penghuni kubur. Saya datang untuk mendoakan mereka sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT. Ziarah kubur mengingatkan bahwa setiap manusia akan mengalami perjalanan yang sama. Cepat atau lambat, semua akan meninggalkan dunia ini.

Di tengah keheningan itu saya teringat perjalanan hidup sendiri. Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya mengabdi sebagai guru. Banyak murid datang dan pergi. Banyak pengalaman manis dan pahit yang telah dilalui. Saya pernah sehat, pernah sakit, bahkan pernah diuji dengan stroke dan diabetes. Semua itu membuat saya semakin sadar bahwa kesehatan, usia, dan kesempatan adalah nikmat yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Allah SWT.

Saat masih muda, kita sering merasa memiliki banyak waktu. Kita menunda berbuat baik karena merasa besok masih ada. Namun berada di Makom Mahmud membuat saya kembali merenung. Berapa banyak orang yang dahulu berjalan di tempat ini, tetapi kini telah menjadi penghuni makam? Berapa banyak yang dahulu bercita-cita tinggi, tetapi akhirnya hanya membawa amalnya?

Saya teringat pesan para ulama bahwa manusia yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya. Bekal itu bukan rumah mewah, kendaraan mahal, atau tabungan melimpah. Bekal itu adalah iman, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, anak saleh yang mendoakan orang tuanya, dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.

Sebagai seorang guru, saya merasa profesi ini adalah ladang amal yang sangat luas. Setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan terus mengalir pahalanya ketika murid mengamalkan ilmu tersebut. Itulah sebabnya saya selalu berusaha menulis setiap hari. Saya ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan. Siapa tahu, setelah saya tiada, masih ada orang yang membaca tulisan saya, mengambil manfaat darinya, lalu mendoakan penulisnya.

Di Makom Mahmud saya belajar bahwa warisan terbaik bukanlah harta, melainkan keteladanan. Syekh Abdul Manaf tidak dikenang karena kekayaannya. Beliau dikenang karena ilmu, dakwah, akhlak, dan pengabdiannya kepada masyarakat. Berabad-abad setelah wafatnya, orang masih datang mendoakan beliau. Itulah bukti bahwa hidup yang penuh manfaat akan terus dikenang sepanjang masa.

Saya juga melihat banyak keluarga yang datang bersama anak-anak mereka. Pemandangan itu sangat menyentuh hati. Orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya tentang sejarah, tentang perjuangan ulama, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Pendidikan seperti inilah yang sering kali tidak ditemukan di ruang kelas, tetapi justru sangat membekas di hati.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Saya membawa oleh-oleh dalam tas, tetapi oleh-oleh yang paling berharga sesungguhnya ada di dalam hati. Saya membawa kesadaran bahwa hidup harus lebih bermanfaat. Saya membawa tekad untuk lebih banyak bersyukur. Saya membawa semangat untuk terus berkarya selama Allah masih memberikan kesempatan.

Saya pun berdoa, "Ya Allah, jadikanlah sisa umurku lebih baik daripada masa laluku. Ampunilah dosa-dosaku, kedua orang tuaku, para guru-guruku, dan seluruh kaum muslimin yang telah mendahului kami. Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah."

Bagi siapa pun yang berkesempatan berkunjung ke Bandung, sempatkanlah singgah ke Makom Mahmud. Jangan hanya datang untuk melihat makam. Datanglah untuk melihat diri sendiri. Datanglah untuk bercermin kepada kehidupan. Sebab makam bukanlah tempat yang menakutkan bagi orang beriman, melainkan pengingat bahwa setiap perjalanan di dunia pasti memiliki akhir.

Semoga setiap langkah yang kita ayunkan menuju tempat-tempat penuh keberkahan menjadi langkah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk mengisi sisa usia dengan amal terbaik, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, dan kelak dipanggil pulang dalam keadaan membawa bekal yang diridai-Nya.

"Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang akan ditanya, melainkan seberapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan."

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com