Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog
KSGN

Wednesday, July 8, 2026

vonis Nadiem publik terbelah

Vonis 15 Tahun Nadiem, Publik Terbelah: Menimbang Keadilan, Praduga Tak Bersalah, dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Jagat media sosial kembali ramai. Sebuah poster talkshow bertajuk "Vonis 15 Tahun Nadiem, Publik Terbelah" mengundang perhatian masyarakat. Berbagai komentar bermunculan. Ada yang mendukung proses hukum yang sedang berjalan, ada pula yang mengingatkan agar semua pihak tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan tidak menghakimi sebelum seluruh proses peradilan selesai.

Perbedaan pandangan tersebut merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, sebagai masyarakat yang menjunjung hukum, kita perlu menyikapinya dengan kepala dingin, berdasarkan fakta, bukan sekadar opini atau emosi.

Sebagai seorang guru yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, saya memandang bahwa setiap persoalan hukum yang melibatkan tokoh publik harus menjadi pembelajaran bagi bangsa. Terlebih lagi jika tokoh tersebut pernah memimpin dunia pendidikan Indonesia.

Pendidikan Lebih Besar daripada Siapa Pun

Selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, banyak kebijakan yang menuai pujian sekaligus kritik. Program Merdeka Belajar, transformasi digital sekolah, perubahan sistem seleksi masuk perguruan tinggi, hingga berbagai kebijakan lain menimbulkan beragam respons dari masyarakat.

Ada guru yang merasa terbantu. Ada pula yang merasa kebijakannya terlalu cepat berubah sehingga membingungkan sekolah.

Perbedaan penilaian terhadap sebuah kebijakan adalah hal biasa dalam demokrasi. Namun persoalan hukum merupakan ranah yang berbeda. Penilaiannya harus didasarkan pada alat bukti, saksi, dan proses pengadilan yang adil.

Menghormati Proses Hukum

Indonesia adalah negara hukum. Oleh karena itu, siapa pun memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum.

Jika seseorang ditetapkan sebagai tersangka, didakwa, ataupun divonis di pengadilan, seluruh proses tersebut memiliki mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Di sisi lain, setiap warga negara juga memiliki hak untuk memperoleh pembelaan hukum, mengajukan banding, kasasi, maupun peninjauan kembali sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati agar tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial.

Publik Memang Terbelah

Fenomena "publik terbelah" sebenarnya bukan hanya terjadi pada kasus ini.

Dalam hampir setiap perkara besar, masyarakat biasanya terbagi menjadi beberapa kelompok.

Ada yang percaya penuh kepada aparat penegak hukum.

Ada yang memilih menunggu putusan berkekuatan hukum tetap.

Ada pula yang melihat persoalan dari sisi politik, ekonomi, maupun kepentingan lainnya.

Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi. Namun perbedaan itu hendaknya tetap disampaikan secara santun, tanpa menyebarkan fitnah ataupun ujaran kebencian.

Pelajaran bagi Dunia Pendidikan

Sebagai guru, saya melihat peristiwa ini memberikan pelajaran penting kepada para siswa.

Pertama, setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Kedua, integritas jauh lebih mahal daripada jabatan.

Ketiga, kepercayaan publik dibangun selama bertahun-tahun, tetapi dapat hilang dalam waktu yang sangat singkat apabila muncul persoalan yang menggerus kepercayaan tersebut.

Pendidikan karakter menjadi semakin penting agar generasi muda memahami arti kejujuran, tanggung jawab, dan akuntabilitas.

Guru Mengajarkan Berpikir Kritis

Di kelas, guru tidak hanya mengajarkan mata pelajaran. Guru juga mendidik siswa agar mampu berpikir kritis.

Berpikir kritis berarti tidak mudah percaya terhadap berita yang belum terverifikasi.

Tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.

Mampu membedakan antara fakta, opini, dan asumsi.

Kemampuan inilah yang sangat dibutuhkan pada era media sosial.

Menjaga Persatuan Bangsa

Perbedaan pandangan jangan sampai memecah persatuan bangsa.

Siapa pun yang sedang menjalani proses hukum tetap memiliki hak-hak yang dilindungi undang-undang.

Demikian pula masyarakat memiliki hak untuk memperoleh informasi yang benar, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepercayaan terhadap lembaga penegak hukum akan semakin kuat apabila seluruh proses dilakukan secara profesional, independen, dan terbuka.

Harapan untuk Dunia Pendidikan

Apa pun hasil akhir dari proses hukum yang sedang berlangsung, dunia pendidikan Indonesia harus terus berjalan.

Anak-anak tetap harus belajar.

Guru tetap harus mengajar dengan penuh semangat.

Sekolah harus menjadi tempat lahirnya generasi yang jujur, cerdas, berkarakter, dan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju.

Pendidikan tidak boleh berhenti karena polemik politik maupun persoalan hukum.

Justru dari setiap peristiwa, kita harus mengambil hikmah untuk memperkuat sistem pendidikan yang lebih bersih, transparan, dan berintegritas.

Penutup

Perdebatan di ruang publik merupakan hal yang lumrah dalam negara demokrasi. Namun, sebagai bangsa yang beradab, kita perlu mengedepankan sikap bijaksana: menghormati proses hukum, menjunjung asas praduga tak bersalah, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap.

Di atas segala perbedaan pendapat, ada kepentingan yang lebih besar, yaitu menjaga kepercayaan terhadap penegakan hukum dan memastikan pendidikan Indonesia terus melahirkan generasi yang berintegritas.

Sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia, saya percaya bahwa setiap peristiwa dapat menjadi pelajaran berharga. Tugas kita bukan sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi warga negara yang cerdas, kritis, santun, dan selalu berpihak pada kebenaran yang dibuktikan melalui proses hukum yang adil. Semoga bangsa Indonesia semakin dewasa dalam menyikapi setiap persoalan, sehingga persatuan tetap terjaga dan pendidikan terus menjadi jalan utama menuju masa depan yang lebih baik.

Ziarah ke Makom Mahmud

Ziarah ke Makom Mahmud: Ketika Langkah Kaki Mengingatkan Kita Bahwa Hidup di Dunia Hanya Sementara

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Kalimat yang sering kita dengar itu terasa begitu dekat ketika saya melangkahkan kaki menuju Makom Mahmud di Kampung Adat Mahmud, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Tempat ini bukan sekadar kompleks pemakaman para ulama, tetapi juga ruang perenungan yang mengajak setiap pengunjung mengingat hakikat kehidupan. Kampung Adat Mahmud sendiri dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah Bandung yang didirikan oleh Syekh Abdul Manaf atau yang dikenal masyarakat sebagai Eyang Dalem Mahmud. Hingga kini, masyarakatnya masih menjaga tradisi, adat, dan nilai-nilai keislaman yang diwariskan para leluhur. 

Begitu memasuki kawasan Makom Mahmud, suasana hati saya berubah. Hiruk-pikuk kota Bandung seakan tertinggal jauh di belakang. Udara terasa lebih tenang. Langkah kaki melambat. Hati yang sebelumnya dipenuhi berbagai kesibukan mendadak diajak berdialog dengan diri sendiri. Di tempat seperti inilah manusia diingatkan bahwa jabatan, kekayaan, popularitas, bahkan segala kebanggaan dunia tidak akan ikut dibawa ke liang lahat.

Di sepanjang jalan menuju makam, saya melihat banyak warung kecil yang menjual oleh-oleh. Salah satunya adalah warung yang saya abadikan dalam foto. Aneka kerupuk, rengginang, opak, makanan ringan, hingga bawang merah dijajakan dengan rapi. Para pedagang menyambut peziarah dengan senyum tulus. Saya melihat bahwa keberkahan ziarah bukan hanya dirasakan oleh para peziarah, tetapi juga menjadi sumber rezeki bagi masyarakat sekitar. Mereka tidak meminta belas kasihan. Mereka bekerja dengan penuh semangat melayani tamu yang datang dari berbagai daerah.

Saya membeli beberapa makanan ringan sebagai oleh-oleh. Nilainya mungkin tidak seberapa, tetapi saya percaya setiap rupiah yang kita belanjakan di tempat seperti ini ikut menggerakkan roda ekonomi warga. Terkadang, membantu sesama tidak harus dalam jumlah besar. Membeli dagangan mereka pun sudah menjadi bentuk kepedulian.

Perjalanan menuju makam semakin menggetarkan hati. Saya membayangkan bagaimana dahulu Syekh Abdul Manaf datang ke kawasan yang masih berupa rawa di tepian Sungai Citarum. Dengan penuh kesabaran beliau berdakwah, membangun perkampungan, dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Dari perjuangan seorang ulama itulah lahir sebuah kampung adat yang hingga sekarang tetap mempertahankan identitasnya di tengah arus modernisasi. 

Ketika berdiri di depan makam, saya tidak datang untuk meminta kepada penghuni kubur. Saya datang untuk mendoakan mereka sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT. Ziarah kubur mengingatkan bahwa setiap manusia akan mengalami perjalanan yang sama. Cepat atau lambat, semua akan meninggalkan dunia ini.

Di tengah keheningan itu saya teringat perjalanan hidup sendiri. Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya mengabdi sebagai guru. Banyak murid datang dan pergi. Banyak pengalaman manis dan pahit yang telah dilalui. Saya pernah sehat, pernah sakit, bahkan pernah diuji dengan stroke dan diabetes. Semua itu membuat saya semakin sadar bahwa kesehatan, usia, dan kesempatan adalah nikmat yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Allah SWT.

Saat masih muda, kita sering merasa memiliki banyak waktu. Kita menunda berbuat baik karena merasa besok masih ada. Namun berada di Makom Mahmud membuat saya kembali merenung. Berapa banyak orang yang dahulu berjalan di tempat ini, tetapi kini telah menjadi penghuni makam? Berapa banyak yang dahulu bercita-cita tinggi, tetapi akhirnya hanya membawa amalnya?

Saya teringat pesan para ulama bahwa manusia yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya. Bekal itu bukan rumah mewah, kendaraan mahal, atau tabungan melimpah. Bekal itu adalah iman, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, anak saleh yang mendoakan orang tuanya, dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.

Sebagai seorang guru, saya merasa profesi ini adalah ladang amal yang sangat luas. Setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan terus mengalir pahalanya ketika murid mengamalkan ilmu tersebut. Itulah sebabnya saya selalu berusaha menulis setiap hari. Saya ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan. Siapa tahu, setelah saya tiada, masih ada orang yang membaca tulisan saya, mengambil manfaat darinya, lalu mendoakan penulisnya.

Di Makom Mahmud saya belajar bahwa warisan terbaik bukanlah harta, melainkan keteladanan. Syekh Abdul Manaf tidak dikenang karena kekayaannya. Beliau dikenang karena ilmu, dakwah, akhlak, dan pengabdiannya kepada masyarakat. Berabad-abad setelah wafatnya, orang masih datang mendoakan beliau. Itulah bukti bahwa hidup yang penuh manfaat akan terus dikenang sepanjang masa.

Saya juga melihat banyak keluarga yang datang bersama anak-anak mereka. Pemandangan itu sangat menyentuh hati. Orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya tentang sejarah, tentang perjuangan ulama, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Pendidikan seperti inilah yang sering kali tidak ditemukan di ruang kelas, tetapi justru sangat membekas di hati.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Saya membawa oleh-oleh dalam tas, tetapi oleh-oleh yang paling berharga sesungguhnya ada di dalam hati. Saya membawa kesadaran bahwa hidup harus lebih bermanfaat. Saya membawa tekad untuk lebih banyak bersyukur. Saya membawa semangat untuk terus berkarya selama Allah masih memberikan kesempatan.

Saya pun berdoa, "Ya Allah, jadikanlah sisa umurku lebih baik daripada masa laluku. Ampunilah dosa-dosaku, kedua orang tuaku, para guru-guruku, dan seluruh kaum muslimin yang telah mendahului kami. Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah."

Bagi siapa pun yang berkesempatan berkunjung ke Bandung, sempatkanlah singgah ke Makom Mahmud. Jangan hanya datang untuk melihat makam. Datanglah untuk melihat diri sendiri. Datanglah untuk bercermin kepada kehidupan. Sebab makam bukanlah tempat yang menakutkan bagi orang beriman, melainkan pengingat bahwa setiap perjalanan di dunia pasti memiliki akhir.

Semoga setiap langkah yang kita ayunkan menuju tempat-tempat penuh keberkahan menjadi langkah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk mengisi sisa usia dengan amal terbaik, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, dan kelak dipanggil pulang dalam keadaan membawa bekal yang diridai-Nya.

"Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang akan ditanya, melainkan seberapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan."

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Friday, April 17, 2026

Menjaga Niat Ditengah Kesibukan

Menjaga Niat di Tengah Kesibukan: Kisah Omjay yang Menyentuh Hati

Pagi itu, seperti biasa, Omjay—Dr. Wijaya Kusumah—sudah duduk di depan laptopnya. Secangkir kopi hangat menemani, sementara jari-jarinya mulai menari di atas keyboard. Jadwalnya hari itu padat: mengajar, membimbing guru, menulis artikel, hingga menghadiri undangan webinar. Sekilas, hidupnya tampak produktif, penuh prestasi, dan menginspirasi banyak orang.

Namun, di balik semua kesibukan itu, ada satu hal yang terus ia jaga dengan penuh kesadaran: niat.

Awal yang Lurus

Omjay sering mengenang masa awal ia menulis. Dulu, ia menulis bukan untuk terkenal, bukan untuk viral, apalagi untuk mendapatkan penghargaan. Ia menulis karena ingin berbagi. Ia ingin ilmunya bermanfaat, ingin pengalamannya menjadi pelajaran bagi orang lain.

Saat itu, tulisannya sederhana. Pembacanya pun tidak banyak. Bahkan, sering kali tidak ada komentar sama sekali. Tapi hatinya justru terasa ringan. Ia tidak terbebani ekspektasi. Ia hanya fokus pada satu hal: menulis karena Allah.

Namun waktu berjalan. Tulisan-tulisannya mulai dikenal. Banyak yang membagikan. Namanya sering disebut. Undangan datang dari berbagai tempat. Ia mulai merasakan manisnya apresiasi.

Di sinilah ujian sebenarnya dimulai.

Saat Niat Mulai Bergeser

Suatu hari, Omjay menyadari ada yang berbeda dalam dirinya. Ia mulai merasa kecewa ketika tulisannya sepi pembaca. Ia mulai bertanya-tanya, “Kenapa artikel ini tidak viral?” atau “Mengapa tulisan saya tidak banyak dikomentari?”

Padahal dulu, ia tidak pernah memikirkan itu.

Ia juga mulai lebih lama memilih judul—bukan hanya agar menarik, tapi agar banyak diklik. Ia mulai mengejar angka: jumlah pembaca, jumlah like, jumlah share.

Hingga suatu malam, ia berhenti sejenak.

Ia menatap layar laptopnya yang masih terbuka. Artikel yang ia tulis belum selesai. Tapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Hatinya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang perlu diluruskan.

Dalam diam, ia bertanya pada dirinya sendiri:

“Saya menulis ini untuk siapa?”

Pertanyaan sederhana itu seperti mengetuk keras pintu hatinya.

Momen Refleksi yang Mengubah

Malam itu menjadi titik balik bagi Omjay. Ia teringat sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

Kalimat itu begitu dalam. Ia menyadari, betapa mudahnya niat berubah tanpa disadari. Kesibukan, pencapaian, dan apresiasi manusia bisa perlahan menggeser tujuan awal yang lurus.

Omjay pun mengambil wudhu. Ia shalat dua rakaat. Dalam sujudnya, ia memohon agar hatinya kembali diluruskan. Ia tidak ingin semua yang telah ia lakukan menjadi sia-sia hanya karena niat yang keliru.

Sejak saat itu, ia mulai membiasakan satu hal sederhana namun bermakna besar: mengecek niat sebelum memulai aktivitas.

Sebelum menulis, ia bertanya dalam hati: “Apakah ini untuk berbagi manfaat atau sekadar mencari pengakuan?”

Sebelum mengajar, ia bertanya: “Apakah ini untuk mendidik dengan ikhlas atau hanya menjalankan kewajiban?”

Sebelum menerima undangan, ia bertanya: “Apakah ini jalan untuk kebaikan atau hanya mengejar popularitas?”

Menjaga Niat di Tengah Kesibukan

Sebagai seorang guru, penulis, dan narasumber, kesibukan Omjay tidak pernah berkurang. Bahkan semakin hari, semakin banyak tanggung jawab yang ia emban. Tapi kini, ia memiliki kompas yang selalu ia pegang: niat yang lurus.

Ia sadar, menjaga niat bukan pekerjaan sekali jadi. Ia adalah proses seumur hidup. Hati manusia mudah berubah. Hari ini ikhlas, besok bisa saja tergelincir.

Karena itu, Omjay tidak pernah merasa aman. Ia terus belajar merendahkan diri. Ia tidak lagi terlalu larut dalam pujian, dan tidak terlalu hancur oleh kritik.

Ia mulai menikmati proses, bukan hanya hasil. Ia merasa lebih tenang, karena yang ia cari bukan lagi penilaian manusia, melainkan ridha Allah.

Pelajaran untuk Kita Semua

Kisah Omjay adalah cermin bagi kita. Di era yang serba cepat ini, kita sering sibuk mengejar banyak hal: target, pencapaian, pengakuan, bahkan popularitas. Tanpa disadari, kita lupa bertanya:

“Ini semua untuk siapa?”

Padahal, nilai sebuah amal tidak hanya dilihat dari besar atau kecilnya, tetapi dari niat yang melatarbelakanginya.

Mengajar bisa menjadi ibadah, jika niatnya karena Allah.

Menulis bisa menjadi ladang pahala, jika tujuannya untuk berbagi manfaat.

Bahkan pekerjaan sederhana pun bisa bernilai besar, jika dilakukan dengan niat yang benar.

Sebaliknya, amal yang tampak besar bisa menjadi kosong jika niatnya hanya untuk dunia.

Menutup dengan Renungan

Di tengah kesibukan yang tak pernah berhenti, mari kita belajar dari Omjay. Luangkan waktu sejenak setiap hari untuk mengecek hati kita.

Tidak perlu lama. Cukup beberapa detik untuk bertanya: “Apakah yang saya lakukan ini sudah karena Allah?”

Karena pada akhirnya, bukan banyaknya aktivitas yang akan menyelamatkan kita, tetapi keikhlasan di dalamnya.

Saat niat terjaga, lelah terasa ringan. Saat niat lurus, langkah terasa bermakna. Dan saat niat benar, setiap amal—sekecil apa pun—akan bernilai besar di hadapan-Nya.

Tetaplah sibuk, tapi jangan lupa menjaga niat.
Sebab di sanalah letak keberkahan hidup yang sesungguhnya.

Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan 
Omjay
Guru blogger indonesia 
Blog https:///wijayalabs.com

Thursday, April 2, 2026

Nurut Apa Kata Mamah

Judul: Nurut Kata Mamah, Omjay Menuai Sehat: Nikmat yang Tak Ternilai Harganya

Ada satu nasihat sederhana yang sering kita dengar sejak kecil, namun kerap kita abaikan saat dewasa: “Dengar kata orang tua, itu untuk kebaikanmu.” Nasihat itulah yang akhirnya benar-benar dirasakan oleh Omjay, yang memilih untuk menuruti kata mamah—dan hasilnya sungguh luar biasa.

Di tengah kesibukan sebagai guru, penulis, dan pegiat literasi, Omjay hampir saja lupa satu hal penting: menjaga kesehatan diri sendiri. Aktivitas yang padat, jadwal yang tidak kenal waktu, serta pola makan yang kadang tidak teratur, perlahan menjadi kebiasaan yang dianggap “biasa saja”. Padahal, tubuh tidak pernah berbohong.

Suatu hari, mamah dengan penuh kasih mengingatkan, “Coba cek kesehatan, Nak. Jangan tunggu sakit.” Kalimat itu sederhana, tapi mengandung makna yang dalam. Awalnya, seperti kebanyakan anak, Omjay sempat menunda. Ada saja alasan: sibuk, belum sempat, merasa baik-baik saja.

Namun, karena cinta seorang ibu tak pernah berhenti mengingatkan, akhirnya Omjay pun menurut. Dengan langkah sederhana, beliau memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap.

Dan hasilnya?

Alhamdulillah… semuanya normal.

Gula darah dalam batas wajar.
Tensi stabil.
Kolesterol terkendali.
Asam urat pun aman.

Sebuah kabar yang mungkin terdengar biasa, tetapi sesungguhnya adalah nikmat luar biasa. Di saat banyak orang harus berjuang melawan berbagai penyakit, Omjay justru mendapatkan kabar baik: tubuhnya masih bersahabat, masih bisa diajak bekerja sama, masih sehat.

Di situlah Omjay benar-benar tersadar…

Sehat itu mahal. Sangat mahal.

Banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan setelah jatuh sakit. Saat tubuh mulai melemah, aktivitas terganggu, bahkan kebahagiaan pun terasa berkurang. Padahal, selama sehat, kita sering lupa bersyukur.

Omjay merasakan betul bagaimana lega dan bahagianya mendengar hasil pemeriksaan tersebut. Bukan sekadar angka normal di kertas medis, tetapi itu adalah tanda bahwa selama ini masih ada penjagaan dari Allah SWT atas tubuh yang diamanahkan.

Dan semua itu berawal dari satu hal: menuruti nasihat mamah.

Ada kebijaksanaan yang sering tersembunyi dalam nasihat orang tua. Mereka mungkin tidak selalu berbicara panjang, tetapi setiap kata yang keluar selalu penuh doa dan pengalaman hidup. Mamah tidak hanya menyuruh cek kesehatan, tetapi sebenarnya sedang mengingatkan pentingnya menjaga diri sebelum terlambat.

Dari pengalaman ini, Omjay mengambil pelajaran berharga:

Pertama, jangan menunggu sakit untuk peduli pada kesehatan. Pemeriksaan rutin bukan tanda kita lemah, tetapi bentuk kecerdasan dalam menjaga diri.

Kedua, dengarkan orang tua. Dalam setiap nasihat mereka, ada cinta yang tulus dan harapan agar kita hidup lebih baik.

Ketiga, syukuri nikmat sehat. Karena saat sehat, kita bisa berkarya, berbagi, mengajar, menulis, dan menginspirasi banyak orang.

Omjay pun kini semakin disiplin menjaga pola hidup. Mulai dari memperhatikan makanan, mengatur waktu istirahat, hingga berusaha tetap aktif bergerak. Semua dilakukan bukan karena takut sakit semata, tetapi karena ingin menjaga amanah tubuh yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Ia juga mulai sering mengingatkan teman-temannya, para guru, dan para pembaca setianya:
“Jangan tunggu sakit baru sadar. Sehat itu investasi terbaik dalam hidup.”

Betapa banyak orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk berobat, tetapi lupa bahwa menjaga kesehatan sejak dini justru jauh lebih murah dan mudah.

Hari itu menjadi titik balik kecil dalam hidup Omjay. Sebuah momen sederhana, tetapi penuh makna. Dari sekadar “menurut kata mamah”, berubah menjadi kesadaran besar tentang arti hidup yang sesungguhnya.

Bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang pencapaian, jabatan, atau karya, tetapi juga tentang tubuh yang sehat, hati yang tenang, dan hidup yang penuh rasa syukur.

Kalimat Penutup:

Nurut kata mamah mungkin terdengar sederhana, tetapi dari situlah Omjay belajar bahwa cinta orang tua adalah penjaga terbaik dalam hidup. Dan saat kesehatan masih kita miliki hari ini, jangan tunggu esok untuk bersyukur—karena sejatinya, hidup yang paling nikmat adalah hidup yang sehat.

Monday, June 5, 2023

pentingnya budaya menulis di kalangan guru

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/55c79e8bc9373b8097c0eb8/menggalakkan-budaya-menulis-di-kalangan-guru

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/565c79e8bc9373b8097c0eb8/menggalakkan-budaya-menulis-di-kalangan-guru

Thursday, May 11, 2023

belajar menjadi guru blogger

Kamis, 11 mei 2023 pukul 15.30-17.00 wib kami belajar membuat blog. Omjay diminta menjadi narasumber dalam kegiatan ini.

https://youtu.be/64y9E53wT3Y

Alhamdulillah pelatihan menulis di blog dihadiri 176 orang anggota PGRI.

Tema kegiatan adalah menjadi guru blogger dalam rangkaian kegiatan tadarus edukatif APKS PGRI.

Siapa yang mau jadi blogger? Bisa nonton siaran ulangnya di YouTube.